Pages

Friday, January 29, 2021

Terimakasih 2020! Kamu sangat berarti

 Menulis sepotong perjalanan hidup tahun 2020 di penghujung bulan Januari 2021, mungkin terkesan "Kenapa baru nulis? udah gajaman kayaknya". Gapapa aku cuma mau mengabadikan sepenggal kisah di tahun 2020 yang ternyata tidak seperti yang direncanakan atau diharapkan. 


JANUARI 2020 

Perpindahan tahun 2019 ke tahun 2020 mengantarkanku memulai perjalanan baru. Mulai dari yudisium sarjana, iya akhirnya sarjana setelah 3.5 tahun mengarungi kehidupan FKG yang amat membuatku overthinking terkadang. Awalnya aku merasa sangat bingung dan gasanggup untuk OSCE (Ujian masuk koas) yang persiapannya hanya h-7 (bener-bener persiapannya), sedangkan kaka tingkat lain persiapannya h-1 bulan, bahkan ada yang h-3 bulan. Kalau boleh bilang H-7 persiapan udah kayak mau pingsan setiap hari *lebay*, tapi untunglah punya temen-temen yang suportif untuk membantu belajar, hapalan dan sebagainya. Tiba hari OSCE ternyata ada 2 stase yang aku harus remedial di hari esoknya. Jujur, teman-teman ku ternyata persiapannya baik untuk OSCE masuk koas, ada beberapa yang 1 shoot (tidak perlu remedial). Ketika tahu aku harus remedial rasanya jatoh banget, tapi gapapa, kita coba lagi di hari besoknya. Pengumuman tiba, aku lulus akhirnya. Yaampun ganyangka, sejujurnya tanpa bantuan Allah melalui orang-orang sekitar, menghadirkan dosen penguji yang baik,  tanpa bantuan doa mama bapak yang menembus langit, rasanya hampir tidak mungkin aku bisa menyelesaikannya dengan cukup baik. 

Perjalanan selesai? belum tentu. Perjalanan baru saja dimulai. Putaran koas pertamaku adalah Puskesmas Kota Kendalsari bersama Difa dan Eva. Datang jam 7 pulang sekitar jam 2-an. Pelayanan selesai jam 12. Tapi jujur rasanya jam8 8-12 itu terasa lama sekali. Kadang maunya pasien pasien datang dan dirujuk saja tanpa tindakan di puskesmas. Tapi aku dapat beberapa pengalaman berharga banget, mulai dari membersihkan karang gigi rahang bawah 2-3 kali sepertinya, menumpat tambalan tetap (walaupun ujung-ujungnya diomelin dokter puskesmas karena kerjanya belum rapih) dan dapat pasien bule dari Inggris (gatau gimana caranya dia nyasar ke Malang) dan aku mengerjakan tumpatannya. Yeay! Akhirnya setelah 2 minggu makan batagor, cari-cari warung makan ke sana kemari setiap jam 12 siang, 2 minggu tapi laporannya banyak sekalidan pas ujian dosen pembimbingnya gadateng -_-, selesai juga perjalanan Puskesmas Kota. Kangen sih kalau diingat-ingat. Dari sini aku paham, bekerja sama dengan orang perlu skill, hati dan fisik yang kuat, karena pikiran orang itu sangat berbeda beda dan cara kita menghadapinya pun berbeda pastinya. 


FEBRUARI 2020

Setelah berkelana ke Puskesmas Kota, Perjalanan koas lanjut ke Puskesmas Kabupaten Malang, tepatnya di Dampit (sekita 1,5-2 jam dari kota Malang). Ini adalah puskesmas kabupaten terjauh dibanding yang lainnya dan pertama kalinya juga ada koas FKG UB di sini. Awal-awal bingung banget, tapi jujur aku senang sama kegiatannya karena banyak turun ke masyarakat. Kasus yang kita angkat juga tidak main-main, HIV.... Kayaknya baru pertama kali juga koas FKG ambil kasus HIV. 

Aku di Dampit bersama 4 orang lainnya : Gabriela, Difa, Sieren dan Ismi. Kami kos di sana dan aku sekamar dengan Difa. Jujur, itu pertama kali kerja bareng sama Difa lagi dan orangnya baik banget dan se helpfull itu sama temen, i'm so glad. Sieren Gebi Ismi juga gakalah membantu pas di Dampit. Pokoknya 3 minggu di Dampit walaupun banyak susah senengnya, aku tetep bahagia karena akhirnya ketemu orang baru (walaupun mohon maaf kadang orang-orang Puskesmas suka susah kumngerti jalan pikirannya, mungkin karena kebanyakan yang diurusin kali ya hihi). Awal minggu di Dampit isinya sambat aja, kosannya panas lah, minggu besoknya hampir tiap pagi airnya suka mati jadilah kita gamandi atau mandi bebek. Yang paling kita seneng kalau jam makan siang dan makan malem, pasti explore Dampit (jalan kaki sih walaupun capek tapi asik!). Sempet juga di akhir minggu pertama kita ke Pantai, atau pulang ke Malang naik bis jurusan Dampit-Malang yang perjalanannya sampai bisa membuat aku tidur dengan mimpi 2 babak. drg. Ardi di Puskesmas Dampit juga sangat baik dan friendly, sampai membuat kita tidak tertekan. Pengalaman pertama kali juga di Dampit mencabut gigi anak walaupun dengan anastesi topikal (Kapas yang dikasih cairan anastersi lalu ditempelkan ke gusi anaknya). 

Di minggu ketiga, aku harus mengikuti TIIKG di Makassar, awalnya sama Zalfa, tapi akhirnya ditemenin sama Naadhira. Tidak disangka juga ini jadi perjalanan terakhir ke luar kota (yang proper dan aman tanpa takut covid). Di Makassar hanya sebentar jadi benar-benar memaksimalkan yang ada supaya bisa dijelajah semua walaupun tetap saja gasemuanya terjamah hihi. Tapi bersyukur banget dikasih kesempatan menjadi pembicara (sebenarnya menggantikan dosen pembimbing dan ada aja hal-hal yang bikin pusing di sana karena salah registrasi dll). 

Oh iya di bulan ini Covid-19 sudah menyebar luas di Wuhan, China, sampai akhirnya di lockdown. Tetapi pemerintah Indonesia di sini masih menyangkal mengenai keberadaan virus corona di Indonesia (yang sebenarnya bisa saja sudah ada namun tidak terdeteksi). Harga masker , sarung tangan dan hand sanitizer juga melambung tinggi dan menembus harga yang amat gila. Banyak penimbun masker dan alat medis lainnya hingga supply demand terhambat. 


MARET 2020

Bagian menegangkan dari koas dimulai~ Masuk stase kedokteran gigi anak. Bersyukur sekali lagi dapet teman DU nya Difa, setelah kami cari pasien ke sana kemari, akhirnya dapat beberapa list nama pasien. Satu minggu di IKGA rasanya udah hampir mau menangis... ternyata kerjanya gasemudah itu untuk dapat acc dosen. 1 minggu di IKGA juga belum bisa membagi jadwal kerja dengan baik bersama Difa, jadilah ada satu yang dikecewakan gitu intinya. Tiba tiba WHO mengeluarkan pernyataan pandemi. Sekolah awalnya libur 2 minggu. Tapi koas belum tau liburnya berapa lama, setelah 4 hari-an akhirnya muncul kasus pertama di Indonesia. Mama bapak langsung menyarankan pulang ke rumah. Akhirnya aku meninggalkan Malang dan pulang ke rumah. Kukira 2 minggu cukup, tapi ternyata kasusnya semakin naik, semua pembelajaran dilakukan secara daring. Ah nulis ini jadi kangen pasien ku, Rafi, Aurell dan Anin. 

Terimakasih kepada teknologi yang akhirnya membuat banyak webinar dan bisa mudah diakses. Akhirnya aku juga mulai sadar akan pentingnya literasi finansial, pentingnya menyisihkan uang dan menabung. Pentingnya menjadi orang yang bisa adaptasi dengan keadaan, karena semenjak pandemi banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya berjualan. Selain itu berpikir kreatif untuk menciptakan suatu peluang adalah hal penting. Mungkin istilahnya bisa meramal masa depan kali ya. Tapi aku mengambil hikmah positifnya, akhirnya setelah hampir 6 bulan lebih gapulang ke rumah, finally i'm in home. Mendekatkan diri sama adek-adek , mencoba membuat sesuatu, mencoba buat makanan dan lain-lain. Intinya sedewasa apapun kita, harus mau mempelajari hal baru supaya tetap berkembang dan bisa mengerti alur perkembangan jaman ini. 


APRIL 2020

Yep, pandemi membuat roda perekonomian terhabat. Banyak yang WFH, orang-orang berjualan di luar rumah jadi sedikit dan sepi pembeli. Banyak sekali yang menutup gerainya dan merumahkan pekerjanya karena tidak sanggup membayar. Bioskop juga tutup, tempat hiburan lainnya pun begitu. Di awal-awal aku mencoba mewaraskan diri dengan tetap beraktivitas, mengikuti jurnal reading, seminar-seminar online, diskusi dengan dosen IKGA, dan aktivitas daring lainnya. Oh iya akhirnya juga aku mencoba masak dessert yang lagi hitz, atau bitter ballen, spaghetti brulee dan lain-lain yang ku coba hihi. Orang-orang juga jadi lebih rajin dan aware dengan kesehatan mereka terutama soal mencuci tangan. 

Di titik ini aku sangat sangat bersyukur kalau bapak masih bisa bekerja dan tidak ada pemotongan gaji sedikit pun. Salon yang mama jalankan memang sempat libur mengikuti aturan pemerintah, tapi akhirnya buka kembali dengan protokol kesehatan yang cukup ketat. Akhirnya aku mengikuti juga akun instagram yang membahas tentang saham / keuangan dan lainnya. Oh ternyata banyak juga ya pemisahan dana antara ini dan itu. Jujur selama di FKG aku sangat tidak melek keuangan (kecuali memang tabungan yang kusisihkan setiap bulan) namun semenjak koas tabungan itu kayak hilang gitu aja terpakai kebutuhan yang tidak perlu. 


MEI 2020

Bulan ramadhan kali ini sangat terasa berbeda. Orang-orang dihimbau untuk tidak mudik, dan tidak sedikit juga yang terjebak di tempat perantauan dan tidak bisa menjenguk orang yang tersayang. Semua dilakukan pembatasan supaya orang-orang tidak berpergian dan menularkan virus dari satu tempat ke tempat lainnya. Jangankan arus mudik, buka puasa bersama (bukber) yang biasanya mungkin sudah penuh jadwalnya dari awal ramadhan- akhir ramadhan, sekarang tidak ada. Ada yang mengadakan bukber virtual, supaya tetap stay insane di tengah pandemi ini. Banyak juga yang berlomba lomba memberi kebaikan untuk yang membutuhkan, memberikan makanan kepada mereka yang mencari sesuap nasi saja susah di tengah himpitan ekonomi. 

Aku senang sekali bisa ikut berpartisipasi di acara aspal charity. Jadi acara ini mewadahi anak2 aspal (teman-teman SMA ku) dan orang-orang lain yang ingin membantu dan berdonasi. Kami menyebarkan bantuan sosial dan makanan nasi kotak untuk mereka-mereka yang bertugas di jalan, atau pedagang asongan, yang pemasukannya sangat mengandalkan pemasukan sehari-hari. So Glad i could join this charity with Yoga, Ranu and Riza. 

Tidak lupa juga untuk makan ketupat dan solat ied di sekitaran rumah dan pakai masker huhu, i miss our normal life without doubt to anything. Tidak terasa di bulan ini kita sampai di penghujung bulan penuh berkah dan rahmat. 

JUNI 2020

Setelah beberapa kali membuat dessert, dari yang cukup enak sampai akhirnya dibilang enak banget sama Risma dan April, akhirnya aku memberanikan diri untuk berjualan dessert. Choco regal, pastel kari dan rainbow cake. Berharap ada orang orang yang mau beli dan coba masakanku hihi. Hitung-hitung cari uang di masa pandemi dan belajar bisnis sendiri. Oh iya yang kasih ide bikin dessert itu Risma, jadi kalau tanpa Risma kayaknya aku ga tau deh mau jualan apa. Banyak banget orang-orang yang muter otak bagaimana caranya mendapat penghasilan tambahan, apa saja dijual dari yang biasa aja sampe ide paling kreatif untuk dijual. Bahu membahu untuk mengatasi pandemi ini terus berlanjut, tapi pandemi tidak usai juga. Seakan Tuhan masih menguji kita sekali lagi untuk bertahan. Banyak orang yang kehilangan rumah, sampai harus pulang kampung dengan menumpang karena sudah tidak punya biaya tinggal. 

Akun jualanku akhirnya kunamakan : sasakue. Alhamdulillah ada yang beli berkat bantuan support dari keluarga dan teman-teman ku. Terharu banget. Terimakasih yaAllah sudah mengirim mereka semua untuk saling membantu dan menjaga.. 


No comments:

Post a Comment

Instagram