Pages

Saturday, August 29, 2020

2020 ? Kok Gini Banget Ya?

 Siapa sih yang bakalan menyangka kalau tahun 2020 ini akan 'kayak gini'. Pandemi, perekonomian Indonesia diambang resesi, beberapa tokoh yang tidak disangka-sangka meninggalkan kita terlebih dahulu, banyak orang jadi punya asumsi sendiri tentang ini itu yang tanpa didasari hal ilmiah atau bukti yang nyata, orang-orang yang mulai bosen di rumah terus, sekolah jarak jauh, dan segala hal lainnya yang ternyata menghambat dan mengubah hampir semua kebiasaan kita. Gatau harus sedih atau senang, 2020 ini udah tinggal 4 bulan lagi, aku harap di sisa bulan menuju 2021 ini kita bisa melakukan hal hal yang terbaik untuk diri kita ataupun untuk orang lain, dan 2021 akan membawa banyak keberuntungan untuk kita semua. 

Positifnya, banyak orang yang jadi semakin peduli sama kesehatan mereka sendiri, mulai rajin cuci tangan, makanan yang sehat, jadi banyak yang jualan makanan juga, terutama untuk usaha sampingan di masa pandemi kayak gini. Tapi eh tapi, masih ada juga orang yang mempertanyakan 'Covid nih ada gasih?' atau gamau pake masker karena panas, kalau bicara sama orang lain jadi susah. Wajar sih masih banyak yang berpikiran kayak gitu, karena di awal tahun ketika Covid ini menjadi Pandemi, pemerintah Indonesia pun masih santai-santai saja dalam menanggapinya. Tapi ternyata ini masalah serius, angka kematian di Indonesia pun terbilang cukup tinggi dibandingkan negara lain, sekolah diliburkan, acara berkumpul dengan banyak orang tidak diperbolehkan, hampir semua WFH, banyak PHK, pengurangan karyawan, penghasilan menurun dan sebagainya. Intinya banyak banget dampak dari pandemi ini yang bikin geleng- geleng kepala, dan di sini bikin kita semua tersadar ternyata selama ini kita dikasih banyak sekali kemudahan oleh Allah untuk melakukan segala sesuatunya. Karena, sekarang atau mungkin kedepannya berkumpul dengan teman teman secara langsung adalah suatu kesempatan besar, yang akhirnya bisa melepas rindu satu sama lain secara tatap muka. Apalagi waktu berkumpul bersama keluarga, rasanya menjadi sesuatu yang berharga sekali.

Jujur, di rumah aja siapa sih yang tidak bosan? Awalnya aku menganggap 'Ah masa di rumah aja bosen sih, kan banyak loh yang bisa dilakuiin'. Aku tau banget di awal pandemi orang-orang mulai beli n***lix di sana sini untuk mnegatasi kebosanannya, ada juga yang berkebun, rumahnya jadi hijaaauu semua, ada yang masak, jualan kue ke tetannga (termasuk aku hehehe), beli buku, cover lagu, joget-joget ala tiktok, ikut webinar sana sini dan banyaakk banget hal lainnya yang dilakuiin sama temen-temen ku .. gaheran semasa pandemi ini kita dituntut buat ADAPTASI. 

Yep! Adaptasi! dan satu lagi KREATIF. Ini mungkin jadi skill yang dibutuhin sama orang-orang, kita dituntut harus bisa adaptasi dengan keadaan, berpikir kreatif gimana ya caranya supaya bisa bertahan hidup, gajarang (termasuk aku) jadi melek financial di masa pandemi kayak gini, mulai follow akun-akun tentang keuangan lah, cara main saham, reksadana dan segala macem investasi lainnya. 

Di rumah aja gajarang bikin orang-orang jadi overthinking, stress sendiri karena pekerjaan, sekolah atau hal lainnya, atau bahkan karena akhirnya tau setelah merantau beberapa lama, ternyata keadaan keluarga di rumah sedang tidak baik-baik saja :(. Kalau yang sisi baiknya ada yang jadi sadar dan merefleksi diri sendiri tentang bagaimana dirinya selama ini. Di rumah aja ketemu orang itu-itu lagi, jadi semakin bikin kita sadar kadang kita juga belum tentu kenal sama sifat keluarga sendiri, apalagi jangan jangan belum kenal sama diri sendiri juga (?). Kalau kata Tulus di lagunya yang berjudul Adaptasi , aku seneng banget sama lirik ini :

Semakin banyak waktu 'tuk bicara

Semakin kupaham harapmu apa

Semakin banyak waktu 'tuk bersama

Bersyukurku kau utuh jiwa raga

Dan tersadar atau tidak, di masa pandemi seperti ini, bisa tinggal di rumah yang melindungi dari panas nya terik matahari dan terjalnya badai yang tiba tiba datang, masih bisa cukup makan, tanpa mikir harus beli apa untuk menghemat keuangan, masih bisa membeli kebutuhan sekunder, masih bisa belajar tanpa mikir beli kuota itu yang ternyata butuh banyak sekali, adalah suatu hal besar yang harus banget disyukuri di pandemi ini. Karena di jalan sana, di luar sana atau di belahan kota mana masih banyak orang yang ternyata untuk makan saja harus hemat-hemat, penjualan menurun karena banyak yang jualan juga, apalagi untuk tempat tinggal. Boro-boro berpikir untuk siapin dana darurat, kadang bisa makan setiap hari saja sudah cukup buat mereka.  Gahanya pandemi, setiap hari rasanya harus bersyukur, mungkin di sini Tuhan menegur kita, untuk tidak lupa dengan semua nikmat yang sudah diberikan. 

Masih bisa di rumah, masih bisa berkebun, masih bisa makan enak, ternyata menjadi privilege untuk sebagian orang, karena kenapa? seperti yang aku sebutkan di atas tadi, gasemua orang ada di posisi yang sama. Hidup terlihat tidak adil bukan?

Masalah mental health juga gakalah digalangkan di 2020 ini, karena orang di rumah aja, overthinking dan sebagainya membuat sebagian orang (mungkin termasuk aku) ada di fase tidak baik baik saja. Media sosial dikonsumsi banyak orang karena ya di rumah saja, melihat media sosial untuk update perkembangan info terbaru, entah gosip, covid dan gajarang yang memperlihatkan produktivitasnya di tengah pandemi yang membuat orang lain 'Ih kok bisa ya dia produktif?' Jadi seakan akan lingkungan membentuk kita untuk berlomba-lomba produktif, ya ada bagusnya sih, bagusnya jadi belajar hal baru dan lebih berkembang. Tapi kalau produktif demi pamer di sosmed dan dilihat orang lain rasanya kurang pas ya. Aku juga pernah ada kok di fase kayak gitu,' mau update ini ah biar orang tau aku lagi ngapaiin'.. tapi apa? bukan bahagia yang aku dapet yang ada malah pusing sendiri karena manusia ini ternyata banyak banget, dan aku cuma 1 dari sekian manusia yang berusaha memenuhi ekspektasi dan pujian orang lain, padahal mungkin yang peduli sama apa yang aku lakuiin pun jarang atau bahkan gaada..


Setelah merenung, lalu cerita ke Mama, jadi sadar, kalau yang kita lakuiin itu emang harus untuk kebaikan diri kita sendiri, sejauh mana diri kita mau belajar dan berkembang, sejauh mana mau ditempa dan yang paling penting adalah ikhlas.. bukan karena ingin dilihat atau dilirik atau bahkan dipuji orang lain, karena apa? karena manusia itu banyak, mau berlomba2 produktifitas juga gaakan ada habisnya, di atas langit masih ada langit lagi. 

Jadi , di malam yang temaram ini aku berharap semua bisa bahu membahu supaya pandemi ini bisa selesai, gasemakin banyak korban lagi. Dan jangan lupa bersyukur, terutama kalau masih bisa di rumah, dan berkumpul sama keluarga. Mereka itu melebih apapun di dunia ini <3

No comments:

Post a Comment

Instagram