Mengawali tulisan ini dengan mengucap rasa sukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan pertolongannya, aku bisa pergi di tengah pandemi dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat dan selamat.
Perjalanan ini berawal dari seorang Safira, yang punya mimpi untuk ikut exchange atau program pertukaran pelajar di luar negeri. Suatu malam, sebelum tidur aku iseng scroll Intsagram, kebetulan sekali post pertama saat itu yang di post oleh IADS adalah program clinical exchange ke Turki. Aku sangat excited! Tapi masalah kedua muncul, exchange ini self-funded artinya semua menggunakan biaya ku sendiri. Tapi aku coba nego ke orang tua ku, dan ya langkah selanjutnya adalah menyiapkan berkas-berkas yang diminta.
Untuk teman-teman yang nanya gimana cara daftarnya? aku coba rangkum di sini ya:
1. Karena ini bekerjasama dengan IADS, teman-teman harus membuat akun di web IADS dan menunggu approval dari NEO di Indonesia (dari APDSA)
2. Setelah di approval, silahkan upload berkas-berkas yang diminta. Kemarin yang diminta beberapa sertifikat vaksin, CV (perbagus CV itu penting banget sih ternyata), asuransi perjalanan.
3. Tunggu di accept sama NEO Indonesia, lalu nunggu di approved atau engga sama pihak Exchange nya (kali ini nama organisasi yang bekerjasama dengan IADS adalah Budsa)
Sejujurnya, aku pernah apply beberapa kali untuk pertukaran pelajar (tapi bukan FKG) dan itu gagal, karena emang terlalu berharap banget walaupun masih merasa kurang. Kali ini aku pasrah, tapi Email approval itu datang waktu aku mau solat magrib sekitar awal Agustus, dan saat itu aku senang banget. Tapi aku juga harus berpikir, gimana caranya dapet uang karena biayanya ga sedikit, walaupun orang tuaku masih bisa cover, tapi rasa sungkan tetap ada dong.
Akhirnya aku sama Nabilah coba buat proposal eksternal, untuk cari sponsor, usaha jasa juga kali aja ada yang mau pakai jasa translate jurnal atau buat PPT, sampai ikut give away, cari tiket penerbangan yang murah sampai bulak balik website sana-sini buat cari yang termurah, aku juga sempet apply part time gitu kali aja ya keterima (ternyata engga), pokoknya persiapannya cukup heboh menurutku
Gacuma cari dana, izin bapak juga kayak sidang skripsi. "Kalau nanti di sana positif gimana?" aku juga bingung dan aku cuma jawab "Bapak serahkan saja ke Allah, insyaAllah aman karena aku udah vaksin dan di sana gabakalan bolos makan + happy supaya ga drop" atau "yang jemput ke bandara siapa? ini beneran ga programnya? nanti ditipu?" Sampe aku harus nelfon hotelnya h-1 berangkat buat memastikan kalau pihak exchange nya udah booking hotel di sana -_-
Kegiatan exchange diadakan di Biruni University, Istanbul. Kegiatan di sana super sibuk, waktu istirahat cuma pas tidur malam saja. Kemana-mana naik transportasi umum, kadang sih naik bus universitasnya. Jalan kaki terbanyak ku waktu museums tour, sampai 20ribu++ langkah dalam sehari. Bener2 butuh counterpain (dan sedihnya lupa bawa dari Indonesia). Tapi karena cuacanya cantik banget dan gapanas kayak di Indo, aku nyaman aja, ga ngeluh kepanasan dekil kumel hahaha (walaupun tetep terlihat agak kumel dibanding teman-teman dari negara lain ya).
Oh iya aku lupa memperkenalkan teman-teman ku, kayak mimpi ketemu mereka dengan latar belakang yang hebat dan bukan sembarangan mahasiswa. Istilahnya aku dipertemukan dengan mahasiswa yang pekerja keras untuk mencapai mimpi-mimpinya. Dari Turkey ada Alhan, Gizem, Betul dan Dilara, dari Croatia ada Lovre dan Ema, dari Jerman ada Emily, dari Iran ada Amirr, dari Irak ada Hama, dari Palestines ada Mayard dan Raghad, dari Jordan ada Nadine dan dari Indo ada aku dan Nabilah dan dari Ekuador ada Daniel. Bisa kamu bayangin kalau wajah south-east asia cuma aku sama Nabilah dan budaya kita juga beda banget, jadi terkadang kita seperti menjadi outsider kalau mereka lagi ngelawak ala-ala timur tengah hahaha
Kalau kamu tanya apakah program ini worth it? aku akan jawab IYA! Kenapa? aku akan mengutarakan beberapa alasan di sini ya hahaha. Pertama, aku emang punya goals untuk explore dunia ini seluas-luasnya, karena bumi ini luas dan aku ingin berbagi cerita dan mengamati gimana sih kehidupan di luar sana, di luar Indonesia. Aku juga pernah denger ada yang pernah bilang 'Semakin kamu menjelejahi dunia ini, harusnya semakin banyak pijakan dan tempat sujud mu di dunia ini", pada intinya aku juga mau mengagumi ciptaan Allah dan seisinya
Kedua, aku yang belum fluent dalam bahasa inggris dipaksa harus berbicara bahasa inggris (walaupun kadang aku banyak diem nya), dan ini emang melatih banget, karena mau gamau kalau kamu lupa kata dalam bahasa inggris, you should explain it with english too dan itu membuat kamu berpikir tentang perbendaharaan kata. Aku juga merasa jadi lebih banyak belajar untuk mendegarkan secara hati-hati, supaya bisa menangkap maksud omongan lawan bicara dengan aksen mereka yang khas negara nya masing-masing (so far aku suka sama orang croatia atau jerman karena aku mudah ngerti apa yang mereka omongin)
Ketiga, kamu bisa bertukar cerita gacuma tentang perkuliahan FKG aja, tapi tentang budaya, keadaan negaramu, kebiasaan mu, background keluarga sampai hobi hahaha atau tentang kucing (aku seneng banget ketemu pecinta kucing di sana). Walaupun kadang tetep aku yang banyak nanya ke mereka (kayaknya mereka lebih suka menjelaskan daripada basa-basi bertanya). Aku jadi tau salah satu temenku dari Croatia, dia bekerja keras banget buat ikut program exchange di mana-mana. Kerja di musim liburan 16 jam/hari wow! Jadi the best student di angkatannya juga, jadi leader di organisasi nya, keren banget kan? hahaha. Aku jadi mikir sendiri "wah kayaknya usaha ku buat ngebiayaiin perjalanan ku ke sini emang masih kurang deh dibanding mereka-mereka yang mungkin emang penuh effort
Keempat, Pengalaman! Aku sempet beberapa kali takut juga ngelakuiin travelling di tengah pandemi kayak gini, apalagi jauh. Beruntungnya koas lagi agak longgar jadi yasudahlah mari kita jadikan momen ini pengalaman yang mungkin gasemua orang bisa merasakan. Aku jadi banyak melihat kehidupan di luar sana, belajar banyak untuk melihat hal dari segala perspektif, bukan berarti hitam selalu salah dan putih selalu benar. Mencoba melihat, kenapa sih mereka bisa punya pikiran seperti itu, dan sebagainya. Melihat juga kalau kehidupan di negara lain tidak seindah yang diliput di media. Bagaimana kehidupan malam nya, bagaimana jalannya, bagaimana isi istana di sana dan sebagainya.
Kelima (mungkin ini yang terakhir) bertemu orang baru dan perjalanan ke tempat baru membuatku banyak merefeleksikan diri, mungkin bisa juga disebut sebagai investasi batin. Mungkin ini jadi salah satu goals ku juga kalau nanti sudah punya penghasilan sendiri semoga bisa mengalokasikan waktu dan dana untuk travelling ehehehe
keenam, observasi klinik itu refresh pelajaran-pelajaran yang udah kamu dapet, dan sambil bertanya-tanya juga dan diskusi sama dokternya. Bahkan di Turki untuk kasus pedo dengan gigi M1 nya udah berlubang di semua regio padahal baru erupsi (tetapi gigi lainnya bagus) itu dikaitkan sama hipomineralisasi dan dikaitkan juga dengan genetik, beda sama yang aku pelajarin, yaitu karena mungkin emang ibunya yang males bantu anaknya sikat gigi.
ketujuh, Aku belajar percaya diri sama kemampuan diri ku sendiri. Sebatas apa kemampuan itu, aku harus improve di bagian mana lagi ya. Jangan takut untuk salah, dan enjoy sama semua proses belajar yang sedang kita jalanin
Oke, ini lebih banyak cerita tentang apa yang aku dapet dari exchange secara pribadi ya hehe, tapi aku akan mengenang perjalanan ini baik-baik huhu. mungkin terkesan lebay, tapi it means a lot for me








Baru baca!! iyaih, perspektif hidup orang luar kadang juga dibilang gila kalo di Indonesia, atau sebaliknya ( contohnya yang bagian kerja 16jam. Jarang temen2 bahkan kita sendiri, anak FKG yang rela kerja kayak gitu)
ReplyDelete