Pages

Sunday, September 19, 2021

STUDENT EXCHANGE 2021

 Mengawali tulisan ini dengan mengucap rasa sukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan pertolongannya, aku bisa pergi di tengah pandemi dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat dan selamat.

Perjalanan ini berawal dari seorang Safira, yang punya mimpi untuk ikut exchange atau program pertukaran pelajar di luar negeri. Suatu malam, sebelum tidur aku iseng scroll Intsagram, kebetulan sekali post pertama saat itu yang di post oleh IADS adalah program clinical exchange ke Turki. Aku sangat excited! Tapi masalah kedua muncul, exchange ini self-funded artinya semua menggunakan biaya ku sendiri. Tapi aku coba nego ke orang tua ku, dan ya langkah selanjutnya adalah menyiapkan berkas-berkas yang diminta. 

Untuk teman-teman yang nanya gimana cara daftarnya? aku coba rangkum di sini ya:

1. Karena ini bekerjasama dengan IADS, teman-teman harus membuat akun di web IADS dan menunggu approval dari NEO di Indonesia (dari APDSA) 

2. Setelah di approval, silahkan upload berkas-berkas yang diminta. Kemarin yang diminta beberapa sertifikat vaksin, CV (perbagus CV itu penting banget sih ternyata), asuransi perjalanan.

3. Tunggu di accept sama NEO Indonesia, lalu nunggu di approved atau engga sama pihak Exchange nya (kali ini nama organisasi yang bekerjasama dengan IADS adalah Budsa) 

Sejujurnya, aku pernah apply beberapa kali untuk pertukaran pelajar (tapi bukan FKG) dan itu gagal, karena emang terlalu berharap banget walaupun masih merasa kurang. Kali ini aku pasrah, tapi Email approval itu datang waktu aku mau solat magrib sekitar awal Agustus, dan saat itu aku senang banget. Tapi aku juga harus berpikir, gimana caranya dapet uang karena biayanya ga sedikit, walaupun orang tuaku masih bisa cover, tapi rasa sungkan tetap ada dong. 

Akhirnya aku sama Nabilah coba buat proposal eksternal, untuk cari sponsor, usaha jasa juga kali aja ada yang mau pakai jasa translate jurnal atau buat PPT, sampai ikut give away, cari tiket penerbangan yang murah sampai bulak balik website sana-sini buat cari yang termurah, aku juga sempet apply part time gitu kali aja ya keterima (ternyata engga), pokoknya persiapannya cukup heboh menurutku

Gacuma cari dana, izin bapak juga kayak sidang skripsi. "Kalau nanti di sana positif gimana?" aku juga bingung dan aku cuma jawab "Bapak serahkan saja ke Allah, insyaAllah aman karena aku udah vaksin dan di sana gabakalan bolos makan + happy supaya ga drop" atau "yang jemput ke bandara siapa? ini beneran ga programnya? nanti ditipu?" Sampe aku harus nelfon hotelnya h-1 berangkat buat memastikan kalau pihak exchange nya udah booking hotel di sana -_-

Kegiatan exchange diadakan di Biruni University, Istanbul. Kegiatan di sana super sibuk, waktu istirahat cuma pas tidur malam saja. Kemana-mana naik transportasi umum, kadang sih naik bus universitasnya. Jalan kaki terbanyak ku waktu museums tour, sampai 20ribu++ langkah dalam sehari. Bener2 butuh counterpain (dan sedihnya lupa bawa dari Indonesia). Tapi karena cuacanya cantik banget dan gapanas kayak di Indo, aku nyaman aja, ga ngeluh kepanasan dekil kumel hahaha (walaupun tetep terlihat agak kumel dibanding teman-teman dari negara lain ya). 

Oh iya aku lupa memperkenalkan teman-teman ku, kayak mimpi ketemu mereka dengan latar belakang yang hebat dan bukan sembarangan mahasiswa. Istilahnya aku dipertemukan dengan mahasiswa yang pekerja keras untuk mencapai mimpi-mimpinya. Dari Turkey ada Alhan, Gizem, Betul dan Dilara, dari Croatia ada Lovre dan Ema, dari Jerman ada Emily, dari Iran ada  Amirr, dari Irak ada Hama, dari Palestines ada Mayard dan Raghad, dari Jordan ada Nadine dan dari Indo ada aku dan Nabilah dan dari Ekuador ada Daniel. Bisa kamu bayangin kalau wajah south-east asia cuma aku sama Nabilah dan budaya kita juga beda banget, jadi terkadang kita seperti menjadi outsider kalau mereka lagi ngelawak ala-ala timur tengah hahaha

Kalau kamu tanya apakah program ini worth it? aku akan jawab IYA! Kenapa? aku akan mengutarakan beberapa alasan di sini ya hahaha. Pertama, aku emang punya goals untuk explore dunia ini seluas-luasnya, karena bumi ini luas dan aku ingin berbagi cerita dan mengamati gimana sih kehidupan di luar sana, di luar Indonesia. Aku juga pernah denger ada yang pernah bilang 'Semakin kamu menjelejahi dunia ini, harusnya semakin banyak pijakan dan tempat sujud mu di dunia ini", pada intinya aku juga mau mengagumi ciptaan Allah dan seisinya 

Kedua, aku yang belum fluent dalam bahasa inggris dipaksa harus berbicara bahasa inggris (walaupun kadang aku banyak diem nya), dan ini emang melatih banget, karena mau gamau kalau kamu lupa kata dalam bahasa inggris, you should explain it with english too dan itu membuat kamu berpikir tentang perbendaharaan kata. Aku juga merasa jadi lebih banyak belajar untuk mendegarkan secara hati-hati, supaya bisa menangkap maksud omongan lawan bicara dengan aksen mereka yang khas negara nya masing-masing (so far aku suka sama orang croatia atau jerman karena aku mudah ngerti apa yang mereka omongin)

Ketiga, kamu bisa bertukar cerita gacuma tentang perkuliahan FKG aja, tapi tentang budaya, keadaan negaramu, kebiasaan mu, background keluarga sampai hobi hahaha atau tentang kucing (aku seneng banget ketemu pecinta kucing di sana). Walaupun kadang tetep aku yang banyak nanya ke mereka (kayaknya mereka lebih suka menjelaskan daripada basa-basi bertanya). Aku jadi tau salah satu temenku dari Croatia, dia bekerja keras banget buat ikut program exchange di mana-mana. Kerja di musim liburan 16 jam/hari wow! Jadi the best student di angkatannya juga, jadi leader di organisasi nya, keren banget kan? hahaha. Aku jadi mikir sendiri "wah kayaknya usaha ku buat ngebiayaiin perjalanan ku ke sini emang masih kurang deh dibanding mereka-mereka yang mungkin emang penuh effort 

Keempat, Pengalaman! Aku sempet beberapa kali takut juga ngelakuiin travelling di tengah pandemi kayak gini, apalagi jauh. Beruntungnya koas lagi agak longgar jadi yasudahlah mari kita jadikan momen ini pengalaman yang mungkin gasemua orang bisa merasakan. Aku jadi banyak melihat kehidupan di luar sana, belajar banyak untuk melihat hal dari segala perspektif, bukan berarti hitam selalu salah dan putih selalu benar. Mencoba melihat, kenapa sih mereka bisa punya pikiran seperti itu, dan sebagainya. Melihat juga kalau kehidupan di negara lain tidak seindah yang diliput di media. Bagaimana kehidupan malam nya, bagaimana jalannya, bagaimana isi istana di sana dan sebagainya.

Kelima (mungkin ini yang terakhir) bertemu orang baru dan perjalanan ke tempat baru membuatku banyak merefeleksikan diri, mungkin bisa juga disebut sebagai investasi batin. Mungkin ini jadi salah satu goals ku juga kalau nanti sudah punya penghasilan sendiri semoga bisa mengalokasikan waktu dan dana untuk travelling ehehehe

keenam, observasi klinik itu refresh pelajaran-pelajaran yang udah kamu dapet, dan sambil bertanya-tanya juga dan diskusi sama dokternya. Bahkan di Turki untuk kasus pedo dengan gigi M1 nya udah berlubang di semua regio padahal baru erupsi (tetapi gigi lainnya bagus) itu dikaitkan sama hipomineralisasi dan dikaitkan juga dengan genetik, beda sama yang aku pelajarin, yaitu karena mungkin emang ibunya yang males bantu anaknya sikat gigi. 

ketujuh, Aku belajar percaya diri sama kemampuan diri ku sendiri. Sebatas apa kemampuan itu, aku harus improve di bagian mana lagi ya. Jangan takut untuk salah, dan enjoy sama semua proses belajar yang sedang kita jalanin

Oke, ini lebih banyak cerita tentang apa yang aku dapet dari exchange secara pribadi ya hehe, tapi aku akan mengenang perjalanan ini baik-baik huhu. mungkin terkesan lebay, tapi it means a lot for me









Friday, January 29, 2021

Terimakasih 2020! Kamu sangat berarti

 Menulis sepotong perjalanan hidup tahun 2020 di penghujung bulan Januari 2021, mungkin terkesan "Kenapa baru nulis? udah gajaman kayaknya". Gapapa aku cuma mau mengabadikan sepenggal kisah di tahun 2020 yang ternyata tidak seperti yang direncanakan atau diharapkan. 


JANUARI 2020 

Perpindahan tahun 2019 ke tahun 2020 mengantarkanku memulai perjalanan baru. Mulai dari yudisium sarjana, iya akhirnya sarjana setelah 3.5 tahun mengarungi kehidupan FKG yang amat membuatku overthinking terkadang. Awalnya aku merasa sangat bingung dan gasanggup untuk OSCE (Ujian masuk koas) yang persiapannya hanya h-7 (bener-bener persiapannya), sedangkan kaka tingkat lain persiapannya h-1 bulan, bahkan ada yang h-3 bulan. Kalau boleh bilang H-7 persiapan udah kayak mau pingsan setiap hari *lebay*, tapi untunglah punya temen-temen yang suportif untuk membantu belajar, hapalan dan sebagainya. Tiba hari OSCE ternyata ada 2 stase yang aku harus remedial di hari esoknya. Jujur, teman-teman ku ternyata persiapannya baik untuk OSCE masuk koas, ada beberapa yang 1 shoot (tidak perlu remedial). Ketika tahu aku harus remedial rasanya jatoh banget, tapi gapapa, kita coba lagi di hari besoknya. Pengumuman tiba, aku lulus akhirnya. Yaampun ganyangka, sejujurnya tanpa bantuan Allah melalui orang-orang sekitar, menghadirkan dosen penguji yang baik,  tanpa bantuan doa mama bapak yang menembus langit, rasanya hampir tidak mungkin aku bisa menyelesaikannya dengan cukup baik. 

Perjalanan selesai? belum tentu. Perjalanan baru saja dimulai. Putaran koas pertamaku adalah Puskesmas Kota Kendalsari bersama Difa dan Eva. Datang jam 7 pulang sekitar jam 2-an. Pelayanan selesai jam 12. Tapi jujur rasanya jam8 8-12 itu terasa lama sekali. Kadang maunya pasien pasien datang dan dirujuk saja tanpa tindakan di puskesmas. Tapi aku dapat beberapa pengalaman berharga banget, mulai dari membersihkan karang gigi rahang bawah 2-3 kali sepertinya, menumpat tambalan tetap (walaupun ujung-ujungnya diomelin dokter puskesmas karena kerjanya belum rapih) dan dapat pasien bule dari Inggris (gatau gimana caranya dia nyasar ke Malang) dan aku mengerjakan tumpatannya. Yeay! Akhirnya setelah 2 minggu makan batagor, cari-cari warung makan ke sana kemari setiap jam 12 siang, 2 minggu tapi laporannya banyak sekalidan pas ujian dosen pembimbingnya gadateng -_-, selesai juga perjalanan Puskesmas Kota. Kangen sih kalau diingat-ingat. Dari sini aku paham, bekerja sama dengan orang perlu skill, hati dan fisik yang kuat, karena pikiran orang itu sangat berbeda beda dan cara kita menghadapinya pun berbeda pastinya. 


FEBRUARI 2020

Setelah berkelana ke Puskesmas Kota, Perjalanan koas lanjut ke Puskesmas Kabupaten Malang, tepatnya di Dampit (sekita 1,5-2 jam dari kota Malang). Ini adalah puskesmas kabupaten terjauh dibanding yang lainnya dan pertama kalinya juga ada koas FKG UB di sini. Awal-awal bingung banget, tapi jujur aku senang sama kegiatannya karena banyak turun ke masyarakat. Kasus yang kita angkat juga tidak main-main, HIV.... Kayaknya baru pertama kali juga koas FKG ambil kasus HIV. 

Aku di Dampit bersama 4 orang lainnya : Gabriela, Difa, Sieren dan Ismi. Kami kos di sana dan aku sekamar dengan Difa. Jujur, itu pertama kali kerja bareng sama Difa lagi dan orangnya baik banget dan se helpfull itu sama temen, i'm so glad. Sieren Gebi Ismi juga gakalah membantu pas di Dampit. Pokoknya 3 minggu di Dampit walaupun banyak susah senengnya, aku tetep bahagia karena akhirnya ketemu orang baru (walaupun mohon maaf kadang orang-orang Puskesmas suka susah kumngerti jalan pikirannya, mungkin karena kebanyakan yang diurusin kali ya hihi). Awal minggu di Dampit isinya sambat aja, kosannya panas lah, minggu besoknya hampir tiap pagi airnya suka mati jadilah kita gamandi atau mandi bebek. Yang paling kita seneng kalau jam makan siang dan makan malem, pasti explore Dampit (jalan kaki sih walaupun capek tapi asik!). Sempet juga di akhir minggu pertama kita ke Pantai, atau pulang ke Malang naik bis jurusan Dampit-Malang yang perjalanannya sampai bisa membuat aku tidur dengan mimpi 2 babak. drg. Ardi di Puskesmas Dampit juga sangat baik dan friendly, sampai membuat kita tidak tertekan. Pengalaman pertama kali juga di Dampit mencabut gigi anak walaupun dengan anastesi topikal (Kapas yang dikasih cairan anastersi lalu ditempelkan ke gusi anaknya). 

Di minggu ketiga, aku harus mengikuti TIIKG di Makassar, awalnya sama Zalfa, tapi akhirnya ditemenin sama Naadhira. Tidak disangka juga ini jadi perjalanan terakhir ke luar kota (yang proper dan aman tanpa takut covid). Di Makassar hanya sebentar jadi benar-benar memaksimalkan yang ada supaya bisa dijelajah semua walaupun tetap saja gasemuanya terjamah hihi. Tapi bersyukur banget dikasih kesempatan menjadi pembicara (sebenarnya menggantikan dosen pembimbing dan ada aja hal-hal yang bikin pusing di sana karena salah registrasi dll). 

Oh iya di bulan ini Covid-19 sudah menyebar luas di Wuhan, China, sampai akhirnya di lockdown. Tetapi pemerintah Indonesia di sini masih menyangkal mengenai keberadaan virus corona di Indonesia (yang sebenarnya bisa saja sudah ada namun tidak terdeteksi). Harga masker , sarung tangan dan hand sanitizer juga melambung tinggi dan menembus harga yang amat gila. Banyak penimbun masker dan alat medis lainnya hingga supply demand terhambat. 


MARET 2020

Bagian menegangkan dari koas dimulai~ Masuk stase kedokteran gigi anak. Bersyukur sekali lagi dapet teman DU nya Difa, setelah kami cari pasien ke sana kemari, akhirnya dapat beberapa list nama pasien. Satu minggu di IKGA rasanya udah hampir mau menangis... ternyata kerjanya gasemudah itu untuk dapat acc dosen. 1 minggu di IKGA juga belum bisa membagi jadwal kerja dengan baik bersama Difa, jadilah ada satu yang dikecewakan gitu intinya. Tiba tiba WHO mengeluarkan pernyataan pandemi. Sekolah awalnya libur 2 minggu. Tapi koas belum tau liburnya berapa lama, setelah 4 hari-an akhirnya muncul kasus pertama di Indonesia. Mama bapak langsung menyarankan pulang ke rumah. Akhirnya aku meninggalkan Malang dan pulang ke rumah. Kukira 2 minggu cukup, tapi ternyata kasusnya semakin naik, semua pembelajaran dilakukan secara daring. Ah nulis ini jadi kangen pasien ku, Rafi, Aurell dan Anin. 

Terimakasih kepada teknologi yang akhirnya membuat banyak webinar dan bisa mudah diakses. Akhirnya aku juga mulai sadar akan pentingnya literasi finansial, pentingnya menyisihkan uang dan menabung. Pentingnya menjadi orang yang bisa adaptasi dengan keadaan, karena semenjak pandemi banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya berjualan. Selain itu berpikir kreatif untuk menciptakan suatu peluang adalah hal penting. Mungkin istilahnya bisa meramal masa depan kali ya. Tapi aku mengambil hikmah positifnya, akhirnya setelah hampir 6 bulan lebih gapulang ke rumah, finally i'm in home. Mendekatkan diri sama adek-adek , mencoba membuat sesuatu, mencoba buat makanan dan lain-lain. Intinya sedewasa apapun kita, harus mau mempelajari hal baru supaya tetap berkembang dan bisa mengerti alur perkembangan jaman ini. 


APRIL 2020

Yep, pandemi membuat roda perekonomian terhabat. Banyak yang WFH, orang-orang berjualan di luar rumah jadi sedikit dan sepi pembeli. Banyak sekali yang menutup gerainya dan merumahkan pekerjanya karena tidak sanggup membayar. Bioskop juga tutup, tempat hiburan lainnya pun begitu. Di awal-awal aku mencoba mewaraskan diri dengan tetap beraktivitas, mengikuti jurnal reading, seminar-seminar online, diskusi dengan dosen IKGA, dan aktivitas daring lainnya. Oh iya akhirnya juga aku mencoba masak dessert yang lagi hitz, atau bitter ballen, spaghetti brulee dan lain-lain yang ku coba hihi. Orang-orang juga jadi lebih rajin dan aware dengan kesehatan mereka terutama soal mencuci tangan. 

Di titik ini aku sangat sangat bersyukur kalau bapak masih bisa bekerja dan tidak ada pemotongan gaji sedikit pun. Salon yang mama jalankan memang sempat libur mengikuti aturan pemerintah, tapi akhirnya buka kembali dengan protokol kesehatan yang cukup ketat. Akhirnya aku mengikuti juga akun instagram yang membahas tentang saham / keuangan dan lainnya. Oh ternyata banyak juga ya pemisahan dana antara ini dan itu. Jujur selama di FKG aku sangat tidak melek keuangan (kecuali memang tabungan yang kusisihkan setiap bulan) namun semenjak koas tabungan itu kayak hilang gitu aja terpakai kebutuhan yang tidak perlu. 


MEI 2020

Bulan ramadhan kali ini sangat terasa berbeda. Orang-orang dihimbau untuk tidak mudik, dan tidak sedikit juga yang terjebak di tempat perantauan dan tidak bisa menjenguk orang yang tersayang. Semua dilakukan pembatasan supaya orang-orang tidak berpergian dan menularkan virus dari satu tempat ke tempat lainnya. Jangankan arus mudik, buka puasa bersama (bukber) yang biasanya mungkin sudah penuh jadwalnya dari awal ramadhan- akhir ramadhan, sekarang tidak ada. Ada yang mengadakan bukber virtual, supaya tetap stay insane di tengah pandemi ini. Banyak juga yang berlomba lomba memberi kebaikan untuk yang membutuhkan, memberikan makanan kepada mereka yang mencari sesuap nasi saja susah di tengah himpitan ekonomi. 

Aku senang sekali bisa ikut berpartisipasi di acara aspal charity. Jadi acara ini mewadahi anak2 aspal (teman-teman SMA ku) dan orang-orang lain yang ingin membantu dan berdonasi. Kami menyebarkan bantuan sosial dan makanan nasi kotak untuk mereka-mereka yang bertugas di jalan, atau pedagang asongan, yang pemasukannya sangat mengandalkan pemasukan sehari-hari. So Glad i could join this charity with Yoga, Ranu and Riza. 

Tidak lupa juga untuk makan ketupat dan solat ied di sekitaran rumah dan pakai masker huhu, i miss our normal life without doubt to anything. Tidak terasa di bulan ini kita sampai di penghujung bulan penuh berkah dan rahmat. 

JUNI 2020

Setelah beberapa kali membuat dessert, dari yang cukup enak sampai akhirnya dibilang enak banget sama Risma dan April, akhirnya aku memberanikan diri untuk berjualan dessert. Choco regal, pastel kari dan rainbow cake. Berharap ada orang orang yang mau beli dan coba masakanku hihi. Hitung-hitung cari uang di masa pandemi dan belajar bisnis sendiri. Oh iya yang kasih ide bikin dessert itu Risma, jadi kalau tanpa Risma kayaknya aku ga tau deh mau jualan apa. Banyak banget orang-orang yang muter otak bagaimana caranya mendapat penghasilan tambahan, apa saja dijual dari yang biasa aja sampe ide paling kreatif untuk dijual. Bahu membahu untuk mengatasi pandemi ini terus berlanjut, tapi pandemi tidak usai juga. Seakan Tuhan masih menguji kita sekali lagi untuk bertahan. Banyak orang yang kehilangan rumah, sampai harus pulang kampung dengan menumpang karena sudah tidak punya biaya tinggal. 

Akun jualanku akhirnya kunamakan : sasakue. Alhamdulillah ada yang beli berkat bantuan support dari keluarga dan teman-teman ku. Terharu banget. Terimakasih yaAllah sudah mengirim mereka semua untuk saling membantu dan menjaga.. 


Instagram