Iya, suara dia. Aku memang tidak pernah tahu siapa namanya , wajahnya pun aku kadang lupa, tapi setidaknya aku tahu asal sekolah nya dan yang pasti suara khas itu, yang selalu berkata "Akhirnya sampai juga di halte bus" ketika sudah sampai, lalu duduk di kursi yang paling ujung.
Sepertinya aku juga tahu rumah dia, selalu naik bis dengan jurusan yang sama dengan ku dan duduk di belakang pak supir. sedangkan aku, si pengecut ini, hanya bisa memandangi dari arah jam 8, sambil senyum senyum sendiri dan kadang bertanya "mengapa dia bisa ramah sekali kepada semua orang". Oh iya satu lagi yang tidak pernah aku lupa, senyum simpulnya yang membuat wajahnya cantik tanpa sentuhan riasan sekalipun.
hari itu aku memberanikan diri untuk menyapa nya terlebih dahulu, ia membalas dengan sangat ramah dan senang, rasanya ingin aku loncat-loncat saja melihat senyum simpulnya. Ternyata dia pecinta hujan, sedangkan aku sangat tidak suka hujan
Lalu kami menertawakan hujan bersama-sama dibawah langit yang mendung
tanpa kami ketahui, sebenarnya setelah saat itu, banyak sekali mendung-mendung yang kami lewati bersama dan tawaan di bawah rintik hujan yang menjadi penghangat kami.

No comments:
Post a Comment