Sinetron di Indonesia sepertinya sudah menjadi makanan yang lezat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya sendiri sekarang sudah jarang sekali menonton TV dan kalaupun saya menonton TV saya sebisa mungkin menghindari sinetron-sinetron yang ada di TV. Kalaupun terpaksa nonton mungkin saya hanya geleng-geleng kepala saja. Kalau ditanya artis sinetron yang belakangan ini baru saja muncul di layar kaca mungkin saya juga tidak tahu, mungkin saya lebih mengenal selebgram atau model-model hijab di instagram ahaha.
Tulisan ini muncul ketika saya 'nanya-nanya iseng' dengan sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SD. Anak yang wajahnya polos ini ternyata pikirannya tidak sepolos yang saya kira, mungkin di luar sana banyak sebenarnya yang pikirannya sudah seperti sepupu saya ini. Jadi beginilah hasil nanya-nanya iseng saya dengan sepupu saya
🙍: "Mbak udah punya pacar belum?"
😏: "Belum nih, sekolah dulu aja baru pacaran" Jawab saya yang tidak mau memperpanjang 'masalah'
🙍:"Aku punya pacar mbak tapi udah putus"
😏: (Melongo) "Hah demi apa? emang pacar apasih?"
🙍:"Itu loh mbak orang yang kita suka"
😏:"Emang kapan pacarannya?"
🙍: (Sambil ketawa ketawa kayak anak abg di sinetron) "Udah lama Mbak, November tanggal 9 putus, tanggal 1 jadiannya"
😏:"Itumah 2 bulan yang lalu, sebentar banget pacarannya cuma seminggu, emang gimana kok bisa pacarannya?"
🙍:"dia bilang lewat BBM" (sambil cengengesan)
😏:"Bilangnya gimana emang tuh?" (makin penasaran)
🙍"(senyum-senyum malu sambil nutupin mukanya) "'Sayang, kamu mau ga jadi pacar aku?' terus aku jawabnya 'gak ah. gak nolak' gitu mbak aku jawab lewat BBM "
😏 : (bengong, soalnya kata-katanya kayak kalimat gombalan abg smp) "emang deket di sekolah?"
🙍: "Iya, dia suka bilang 'Eh anterin aku ke kantin yuk' yaudah aku jalan deh berdua ke kantin (Buat saya iri aja nih si Adek). Terus sama pernah ngajakin pulang bareng, tapi aku bilangnya gamau soalnya dijemput bundaku, terus mukanya kayak melas gitu mbak"
😏: (tambah bengong) "Terus kenapa gitu udah gapacaran lagi?"
🙍:"Iya aku putusin aja soalnya kayaknya ada cewek lain deh, aku bbm dia 'kita putus ya' terus masa dia jawabnya 'ok' songong banget kan ya, kan harusnya kalau cowok tuh usaha dulu gitu"
😏:(istigfar dalem hati) "Ohahaha ya gausah pacaran dulu lah masih SD mah main-main aja sama temennya tuh, dulu Mbak aja main bekel"
🙍:"Terus mbak, sekarang aku sama dia diem-dieman aja deh"
Oh iya sebelumnya sepupu saya ini sempet nanya ke saya yang buat saya kaget juga
"Mbak udah ada calon belum?"
saya kaget, lalu saya jawab dengan polos "calon apa nih?"
"ya calon suami lah"
karena harusnya pertanyaan seperti muncul dari kalangan dewasa bukan dari anak kelas 1 SD nan imut dan gembul. 'Calon suami' pula bilangnya, dapet gelar sarjana aja belum.. kok udah cari calon(?)hehehe
Itulah sepenggal 'nanya-nanya iseng' yang hampir membuat saya melongo. Mungkin di luar sana memang udah banyak anak-anak yang pikirannya kayak sepupu saya ini. Saya juga ga menganggap cerita tadi suatu kejadian yang nyata, bisa aja dia cuma ngarang-ngarang cerita(?) tapi yang sangat disayangkan cerita yang dia buat pun mirip dengan cerita yang disajikan sinetron-sinetron Indonesia yang ceritanya tidak jauh-jauh dari remaja SMP/SMA atau mahasiswa yang sedang dimabuk asmara dan konflik yang disajikan juga tidak jauh-jauh dari adanya orang ketiga yang membuat hubungan mereka rusak atau bahkan putus.
Memang sepupu saya ini sebelum sekolah SD dan karena tinggal di lingkungan yang baru dan belum mempunyai teman yang banyak untuk bermain di luar rumah, jadi untuk mengisi waktunya hampir setiap hari di rumah menonton sinetron selagi ibunya melakukan kegiatan yang lain atau bahkan menonton bersama ibunya. Saya jadi teringat salah satu postingan teman kuliah saya bernama Fifah di Instagram yang menceritakan masa kecilnya yang tidak boleh menonton TV tapi diisi dengan membaca buku-buku seperti ensiklopedia ataupun yang lainnya sampai dia mengenal internet. Saya sangat salut dengan orang tuanya Fifah karena dengan mendidik begitu, Fifah yang saya kenal juga menjadi orang yang pintar dan kreatif. Lalu saya berpikir bagaimana sepupu saya ini kalau nanti sudah di usia yang lebih dewasa, dewasa sebelum waktunya juga bukan sesuatu yang baik kan?
Saya juga masih belum paham mengapa acara di Indonesia sedikit yang memberikan edukasi, terutama untuk anak-anak. Bukankah anak-anak kecil itu peniru ulung ? apa yang mereka lihat itu juga yang mereka lakukan. Lalu setelah Mama saya tahu cerita ini beliau bilang
"Mungkin sebenarnya banyak yang lebih parah dari sepupu kamu ini, cuma kita gatau aja. Terus kalau media televisi memang hanya mencari keuntungan saja tanpa peduli bagaimana yang menonton siapa yang mengontrol? ya harusnya orangtuanya yang bertindak tegas. Kurang-kurangin atau harusnya gausah lah nonton acara gosip, sinetron di depan anak kecil. Udah ada juga kan beberapa acara yang buat anak-anak? mungkin emang belum banyak juga, tapi ya janganlah anak-anak itu dikasih tontonan sinetron yang cinta-cintaan, mereka loh harusnya dikasih tontonan yang baik-baik kan kartun juga ada tuh. Kamu nanti kalau jadi orang tua, jangan biasaiin anaknya nonton TV terus, beliin aja buku cerita yang banyak biar anaknya kreatif, atau sering-sering ajak main anaknya biar ga nonton TV terus."
Ya karena saya belum jadi orangtua jadi saya hanya bisa mengutip kata-kata Mama saya tadi hehehe. Saya dan adik-adik saya pun kalau menonton Televisi jarang sekali (hampir tidak pernah) nonton sinetron atau gosip atau acara-acara yang mengumbar aib orang, dan salah satu alasan mama saya TV hanya ada di ruang keluarga, supaya anaknya ga keasyikan nonton sendirian di kamar dan malah lupa sama dunia luar (keluarganya).
Nonton TV itu boleh aja, tapi harus tau juga dong acara apa yang baik dan engga? Jangan sampai karena menonton sinetron atau acara yang kurang baik, adik-adik kita pun mengikuti jejak yang kurang baik pula.
See you!

No comments:
Post a Comment