Ini sebuah kisah tentang Bapak ku dan Aku ..
Aku biasa memanggil Bapak ku dengan sebutan ‘Bapi’ singkatan
dari (Bapak Papi) hahaha itu sebenarnya lucu-lucuan saja, karena sudah biasa
kan memanggil dengan Ayah atau Bapak, makanya aku dan adik-adik ku memilih
panggilan yang tidak biasa, biar lebih special
memanggilnya. Bapi ini seorang yang pekerja keras dan menghargai segala proses
dalam hidupnya untuk mencapai kesuksesan itu.
Suatu hari saat aku kelas 6 SD, kami sekeluarga sedang
bersih-bersih rumah, memilah-milah apa yang masih terpakai dan tidak terpakai.
Saat itu juga Bapi memanggil ku dari arah kamar
“Kak sini deh” panggil Bapi.
Lalu aku berjalan ke arah kamar dan Bapi memperlihatkan ku
jam yang sudah using namun tetap terlihat memesona.
“Punya siapa ini pak?” Tanya ku
“Punya Bapak dulu. Dari Swiss” jawab Bapi
“Wah sudah lama sekali dong ya. Bapi ke Swiss sebelum aku
lahir, sebelum menikah sama Mama juga kan?” Tanya ku penasaran saat itu.
“Iya sudah lama, tapi jam ini kuat sekali sampai sekarang
masih bisa digunakan, paling tinggal diganti batere jam dan talinya saja” Kata
Bapi sambil menunjukan jam Swatch seri terbaru pada jamannya.
“Wah keren! Masih bisa aku pakai sekarang” Kata ku
“Jam ini punya cerita sendiri loh” Kata Bapi dengan bangga
“Wah apatuh aku mau dengar ceritanya” Kataku dengan tidak
sabar, karena cerita Bapi selalu membuat ku berdecak kagum.
~..~
Perjalanan Bapi ke Swiss merupakan hadiah dari Manajer di
kantornya untuk mengikuti training mesin selama tiga bulan di sana. Saat itu
adalah tahun 1990, delapan tahun sebelum aku lahir dan enam tahun sebelum Bapi
menemukan Mama. Bapi sangat senang bisa mendapatkan kesempatan belajar ke
Swiss. Perjalanan itu Bapi anggap sebagai salah satu pencapaian besar dalam
hidupnya yaitu bisa belajar ke luar negeri (walaupun hanya sebentar). Dengan tabungan
Bapi, akhirnya Bapi membawa uang saku tambahan ke Swiss.
Bapi ke Swiss tidak sendirian, Bapi bersama tiga orang teman
lainnya. Saat itu, Bapi berpikir untuk mengenang pencapaiannya bisa pergi ke
luar negeri secara gratis maka Bapi berpikir untuk membeli sebuah jam tangan,
jam tangan yang akan mengingatkan Bapi tentang arti perjuangan untuk mencapai
hal tersebut selain dari foto. Perjalanan Bapi ke Swiss pun tidak asal dipilih
oleh Manajernya, harus mengikuti beberapa rangkaian test dan atasan nya melihat
kinerja yang Bapi berikan kepada perusahaan. Atas hasil kerja kerasnya itu lah
Bapi bisa ke Swiss dan belajar sebentar di sana.
Setelah satu bulan menetap di sana Bapi melihat dan sangat
tertarik dengan jam tangan Swatch keluaran terbaru pada zamannya. Bapi ingin
menjadikan jam tangan tersebut sebuah pertanda salah satu pencapaian
terbesarnya. Akhirnya dengan menggunakan tabungannya, Bapi membeli jam Swatch
itu. Jam itu digunakan kemana pun Bapi pergi untuk menjadi pengingat kalau jam
itu adalah hasil salah satu perjuangannya selama ini dan bisa sampai di salah
satu Negara impiannya.
Suatu hari, Bapi pergi ke toilet di salah satu Perpustakaan
di Kota Zurich, lalu Bapi melepas jam tangan. Setelah selesai, Bapi
meninggalkan toilet itu dan kembali belajar di perpustakaan. Malamnya ketika
kembali ke flat, Bapi baru tersadar jam yang digunakannya tidak lag di
tangannya. Bapi bingung dan heran, ke mana jam tangannya? Bapi bertanya kepada
teman-temannya pun juga tidak ada yang tahu di mana jam tangannya, di tas juga
tidak ada. Alhasil malam itu Bapi tidur dengan tidak tenang, sambil berpikir
‘sepertinya tertinggal di toilet’.
Keesokan harinya, Bapi bergegas untuk mengunjungi kembali
perpustakaan dan mencari jam tangan itu di Toilet, namun hasilnya tetap nihil.
Salah satu teman Bapi
pun berkata “Yasudahlah kalau memang
sudah hilang mau bagaimana lagi? Mungkin memang bukan rezekinya. Nanti bisa
beli lagi. Lagian jam merk itu paling beberapa tahun lagi akan buka toko di
Indonesia” kata teman Bapi yang bernama Benny dengan santai
“Bukan seberapa mahal nya jam ini atau kapan merk jam ini
buka toko di Indonesia, saya membeli jam ini karena memang ada makna di balik
jam itu. Jam itu menjadi salah satu pengingat pencapaian saya kalau saya sudah
berhasil belajar dan bertukar pikiran di negeri orang” Kata Bapi dengan tegas
Akhirnya Bapi menanyakan kepada petugas informasi
perpustakaan. Tapi mereka menjawab tidak tahu, mereka menyarankan Bapi untuk
pergi ke ujung lorong perpustakaan di sana terdapat etalase lost and found. Mungkin jam tangan Bapi
berada di sana. Setelah mencari berulang kali di etalase tersebut Bapi tetap
tidak menemukan jam itu. Akhirnya Bapi parsah ‘Mungkin benar apa yang diucapkan
Benny, jam itu memang bukan rezeki ku. Mungkin aku akan menabung lagi untuk
membeli jam itu.’ Ujar Bapi dalam hati untuk menguatkan diri.
Tapi Bapi tetap mencari sampai mendekati hari kepulangannya,
karena pikir Bapi mungkin ada yang berbaik hati masih mau mengembalikannya.
Setelah mengikuti training di sana dan juga dibantu mencari
pengalaman dengan kerja sampingam, akhirnya tibalah waktu Bapi dan teman-teman
nya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada salah satu kota tercantik di
dunia, juga teman-temannya dan bosnya di sana. Sebelum pulang, Bos Bapi di sana
bernama Mr. Roland memberikan sebuah hadiah kotak kecil dan beberapa lembar
uang di dalam amplop
“Ini ada kenang-kenangan dan hadiah kecil untuk mu karena
telah menjadi peserta training terbaik di sini. Semoga hadiah ini cukup untuk
menggantikan kehilangan jam mu tempo hari” kata Mr. Roland dengan senyum yang
mengembang di wajahnya
“Terimakasih banyak Mr. Kami tidak akan melupakan jasa Anda
dan teman-teman Anda. Semoga saya bisa kembali ke sini lagi di lain waktu untuk
bisa lebih banyak belajar dari Anda dan teman-teman Anda” Ujar Bapi sambil
menyalami Mr. Roland.
Ketika menunggu boarding pesawat di bandara, Bapi pun
membuka hadiah dari Mr. Roland karena sangat penasaran. Ternyata hadiah yang
Bapi terima adalah jam tangan baru dengan model yang sama dengan yang Bapi beli
sebelumnya. Bapi sangat senang dengan jam tangan yang ia dapatkan. Kerja keras
yang Bapi torehkan selama mengikuti training dan kerja sampingan membuahkan
hasil, walaupun menurut orang lain mungkin jam tangan hanyalah sebuah jam yang
menunjukan waktu, tapi bagi Bapi jam tangan itu selain untuk menunjukan waktu,
jam tangan itu juga menjadi sebuah pengingat bahwa salah satu mimpi dalam
hidupnya sudah tercapai atau mungkin target-target yang pernah dibuat sudah
tercapai. Semenjak saat itu, jika Bapi mencapai suatu hal yang menurut Bapi
adalah sebuah hal yang prestigious Bapi
pasti membeli satu jam tangan sebagai pengingat yang nanti akan diturunkan ke
anak-anaknya disertai dengan cerita panjang yang menyelubungi jam itu.
Dan sekarang, jam tangan itu menemani hari hari ku sejak SMP hingga kuliah sekarang, untuk menemani bagaimana seharusnya anak muda itu berproses dari ulat hingga akhirnya menjadi kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan indah.
Dan sekarang, jam tangan itu menemani hari hari ku sejak SMP hingga kuliah sekarang, untuk menemani bagaimana seharusnya anak muda itu berproses dari ulat hingga akhirnya menjadi kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan indah.

No comments:
Post a Comment