![]() |
Tulisan ini dibuat ketika saya merasa banyak yang harus dikerjakan, tapi saya malah tenggelam dalam laman instagram atau timeline twitter yang membuat saya lupa waktu.
Sebenarnya tulisan ini adalah hal yang 'biasa' terjadi dari dulu saya SD-SMA, yaitu hidup dalam ekspektasi. Safira kecil adalah seorang yang sangat terencana, saya sudah mulai buat planing dari saya SD kelas 5, saya mulai menuliskan mimpi mimpi besar saya, semakin tahun mimpi itu ada yang alhamdulillah sudah bisa saya coret, tapi ada juga yang tetap tersimpan rapi dan mungkin memang belum rezeki saya untuk menggapainya. Mimpi orang tiap hari bisa berubah, begitu juga rencana. Waktu saya SD kelas 6, saya gasuka semisal saya harus pergi ke suatu tempat dadakan (1 jam sebelum berangkat baru bilang kalau akan pergi ke tempat itu), walaupun ujung ujung nya saya tetep ikut, tapi dengan keadaan jutek (iya Safira kecil dulu sering jutek hehe).
Kenapa saya ga suka?
Jawabannya sederhana, 'karena itu gadirencanakan sebelumnya'. Saya gasuka kalau harus pergi dadakan, karena berarti hari itu ada satu kegiatan saya yang diundur / gadilakuiin pada akhirnya. walaupun kegiatan kelas 6 SD saya ya hanya main sama teman, nonton film, baca novel/buku, tapi saya tetep gasuka kalau pergi tanpa rencana. Begitu pun dengan main, semisal pulang sekolah siang, tapi tiba tiba teman saya ngajak main, padahal rencana saya hari itu sehabis pulang sekolah saya mau tidur siang. Yap, safira kecil penuh rencana. Kalau kata orang mah saya 'saklek' sama jadwal yang sudah saya buat sendiri.
Tapi, ketika beranjak SMP saya mulai terbiasa dan bisa memilih, mana yang memang rencana prioritas atau rencana yang bisa dikesampingkan, akhirnya saya ga kesel lagi kalau emang tiba tiba ada kegiatan apapun diluar rencana saya hari itu. Tapi lagi lagi saya saat itu masih suka kesel sendiri, kenapa?
Karena saya selalu membayangkan apa yang terjadi nantinya, pada kegiatan apapun, baik susah ataupun kegiatan menyenangkan, dan berharap apa yang saya bayangkan baik itu yang benar benar akan terjadi. Tapi kenyataannya? Realita menampar saya, tidak semudah itu menciptakan realita yang sebelumnya sudah dibangun pengharapan pengharapan besar. Semisal saya pergi ke acara kondangan, hari itu saya sudah merasa "wah saya cantik" dan saya sudah membayangkan di depan kaca, pasti akan ada orang yang memuji saya di kondangan itu yang bilang kalau 'saya cantik', tapi realita lagi lagi menampar saya, sampai pulangpun tidak ada orang yang berkata kalau 'saya cantik' karena saat itu semua orang rasanya jauh lebih cantik dari saya. Memang hidup ini gaboleh congkak. Saya kesel? sedikit kesal. Tapi tidak apa, sejak saat itu saya mulau belajar mencintai diri saya sendiri apa adanya dan saya ingin terlihat cantik pun untuk diri saya sendiri, bukan untuk orang yang ingin melihat saya cantik. Atau misalnya ketika saya ingin pergi ke suatu tempat, saya membayangka tempat itu menjadi tempat yang bagus, dingin, cantik. Tapi ternyata realita tidak sesuai dengan ekspektasi saya, saya bad mood sehariaan karena ekspektasi yang saya bangun sendiri.
Saya pun pernah menghidupkan seseorang dalam ekspektasi saya. Saya selalu punya harapan tinggi dengan orang itu, entah orang itu akan melakukan 'sesuatu' untuk saya yang akan membuat saya senang, sudah saya bayangkan, tetapi kenyataannya tidak seperti itu, dia biasa saja, tidak melakukan 'sesuatu' yang membuat saya senang. Berkali kali saya menghidupkan orang tersebut dalam ekspektasi saya, berkali kali juga saya harus kesal, nangis. Kesal? kesal kepada siapa? Kesal kepada diri saya? oh jelas tidak, saya kesal kepada orang itu karena tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Padahal orang itu tau saja tidak apa yang saya harapkan dari nya. Karena saya hanya membayangkannya sendiri dan selalu berharap orang itu melakukannya untuk saya. Tapi ternyata harapan saya tidak pernah sampai kepada orang tersebut. Saat itu saya selalu mendalih dengan alasan 'Tapi kan kalau kayak gitu*blablaba* harusnya dia kayak gini dong *blablabla" seakan akan saya jadi mengatur hidupnya, padahal diminta mengatur hidupnya pun tidak.
Sampai akhirnya saya lelah, saya lelah jika harus membayangkan dan memiliki ekspektasi terhadap orang, siapapun dia. Menginjak bangku kuliah, saya mulai belajar untuk tidak berharap lebih kepada orang, siapapun itu. Karena memang dasarnya berharap hanya kepada Allah saja, berharap kepada manusia akan kecewa nantinya. Saya mulai tidak menghidupkan ekpektasi saya terhadap hal apapun yang akan terjadi. Saya tetap menjadi perencana untuk beberapa hal besar yang sekiranya ingin saya capai dalam hidup, tetapi tidak lupa juga kalau banyak rencana kecil di luar sana yang sangat mengejutkan! dan menyenangkan pastinya. Saya belajar untuk tidak membayangkan apapun itu, saya belajar untuk tidak menghidupkan seseorang dalam ekspektasi saya , saya hanya percaya semua akan baik baik saja pada akhirnya.
Karena sebenarnya hidup tanpa ekspektasi menyenangkan, banyak hal gaterduga akan terjadi, hal hal yang keren. Dan hidup gapenuh kekesalan sama orang, jadi lebih santai dan pastinya damai.
See you on another post
sasa


I can relate, Saf. Kadang ekspektasi memang gak sesuai realita. Tapi hati2.. Aku rasa ekspektasi dan berharap yang terbaik itu beda tipis. Jangan2.. Karena banyak yg mengkambing hitamkan ekspektasi, mereka jadi lupa bahwa ada yang namanya kekuatan doa dan harapan.
ReplyDeleteJadi yaa... Gak sepenuhnya ekspektasi buruk. Yang penting ekspektasi itu gak ditaruh pada objek lain tapi pada diri kita sendiri. Jadi kita yang punya power atas hasil dari ekspektasi itu.. Btw, post annya bagussss! Ditunggu cerita2 lainnya :D
iyaap ten bener juga:) kekuatan doa dan harapan :( makasih udah diingatkan aku hampir lupa sama hal itu:D. Hahaha iyaa ekspektasi sama diri sendiri aja, jangan ekspektasi sama orang lain atau hal lai :( biasanya jatohnya sakit
Delete