Pages

Friday, May 11, 2018

Long Life Learner

di atas awan, 05 mei 2018

Akhirnya 1 jam 20 menit ku di pesawat terasa lebih berfaedah

"Misi mbak, saya mau masuk" ucap seorang ibu yang berpenampilan sangat sederhana.
Akhirnya beliau duduk, lalu setelah beliau menyapa saya dan bertanya-tanya ke mana tujuan saya, asal saya dan kuliah di mana, Beliau tersenyum dan cerita pun dimulai..

Nama beliau adalah Ibu Dewayani, akrab dipanggil Ibu Dewa kalau di kantornya. Berasal dari Jogjakarta, kerja di salah satu Instansi di Jakarta. Usia? Wah jangan ditanya sudah 54 tahun tapi semangatnya tetap semangat 45
"Saya ada tugas mengisi lokakarya di Polinema Malang, ya sebagai pembicara. Allah itu memang tidak pernah berhenti memberikan rezeki kepada hamba-Nya ya mbak, tinggal bagaimana kita menjalaninya saja dengan ikhlas. Kayak saya sekarang ini tiba-tiba aja ada panggilan untuk jadi pembicara lokakarya, semua dibiyayaiin dan alhamdulillah dapet fee juga. Alhamdulillah" Kata beliau mengawali pembicaraan kami. 

"Anak saya inshaAllah mau sumpah dokter gigi juga mbak bulan Agustus nanti, mohon doanya ya supaya lancar" Anak ibu ini sedang menjalani masa klinik (koas) di salah satu universitas di Jakarta. 
"Di FKG UB kebanyakan perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan Tante"
 "Nah apakah karena laki2 dianggap ga seterampil perempuan? padahal tidak juga kan.. buktinya seperti anak saya , sering bantu temen temennya yang perempuan buat nyabut gigi graham yang belakang karena susahnya minta ampun, kalau perempuan harus kasih effort yang lebih besar buat nyabut. Tante mempelajari itu di UI, kenapa orang itu sering kali memandang sebelah mata jika pekerjaan itu dilakukan oleh perempuan/laki-laki. ya padahal mereka sama saja seharusnya dalam pekerjaan."

Beliau sangat mendukung cita-cita anaknya asalkan anaknya bisa berguna buat orang lain. Beliau juga bercerita bagaiman pembangunan di Indonesia ini belum merata, bahkan di daerah Banten sana masih ada warga yang susah mendapatkan akses air bersih. Lalu saya juga bercerita bagaiman hasil survei desa kami di salah satu desa Kabupaten Malang yang kebanyakan anak-anaknya memilih untuk menikah saja atau menjadi tukang bangunan daripada harus sekolah tinggi-tinggi.
"Padahal sekolah enak loh mbak, tinggal belajar aja. ga pusing mikirin gaji, pajak, belum lagi masalah sama bos di kantor. Pusing nak kalau udah kerja itu. Tante kalau disuruh milih sekolah atau kerja ya Tante pengennya sekolah aja, enak toh tinggal belajar aja kerjaannya. Tapi orang dewasa ya tidak hanya berpikir seperti itu, kalau begitu gimana bertahan hidupnya ? kita juga harus kerja supaya bisa bertahan hidup terus"
"Tante emang sukanya dengerin orang cerita, ngobrol, bertukar pendapat. Pokoknya mbak, mau jadi apapun kita, coba kita jalaninnya sesuai passion kita dan dengan ikhlas, inshaAllah kita akan enjoy aja menjalaninya, sesulit apapun itu pasti dihadapin mbak. Pesan Tante, Mbak Fira banyak berdoa dan berusaha juga, mumpung masih muda ayo explore dunia, ketemu banyak orang, belajar dari mereka, temuiin passion mbak fira yang disuka apa mbak" kata Tante Dewa sambil tersenyum

Beliau juga menceritakan kunjungannya ke suku pedalaman di Papua sana, yang saya sendiri gabisa ngebayangin masih seperti apa mereka di dalam hutan sana. Beliau juga pernah bekerja di salah satu lembaga di New York, dan beberapa pengalaman hebat lainnya.

Yang membuat saya sangat terkesan adalah semangat beliau untuk tetap menuntut ilmu padahal usianya sudah setengah abad.
"Tante gasabar deh mau lanjut S3 lagi, inshaAllah tante mau lanjut tahun depan di UGM. Gasabar pake backpack jalan keliling kampus, pake celana jeans." sambil senyum-senyum (mungkin membayangkan juga)

Setalah sampai, kami berpisah di Bandara. Penampilan yang sederhana, menipu saya karena awalnya saya menganggap Beliau hanya seorang pelancong yang sedang berkunjung ke Malang, tapi ternayata lebih dari itu!
Perjalanan pulang di mobil pun diisi oleh pikiran saya tentang long life learner, 3 kata yang pernah ditanyakan oleh salah satu dosen saya di kampus "Masuk FKG, sudah siap menjadi long life learner?"ternyata tidak hanya dokter aja yang jadi long life learner, tapi semua orang yang memang mau belajar terus dan terus. Akhirnya saya juga berkaca pada diri saya sendiri 'Siap ga fir jadi long life learner? gimana mau siap kalau masih suka nunda-nunda belajar'





No comments:

Post a Comment

Instagram