Pages

Saturday, September 2, 2017

Dua Langit part 1

 Auckland, 3 Juli 2017

" Huft akhirnya sampai juga di rumah" sambil menghempaskan diri di kasur dengan paper bag yang ku letakkan di lantai kamar. Beberapa hari sebelum kepulangan ku ke Indonesia, aku mulai sibuk mengurus ini itu, mulai dari tiket kepulangan hingga membeli oleh oleh untuk keluarga dan teman teman dekat di tanah air, tidak lupa juga karena ini adalah akhir semester ganjil ku di Auckland University kesibukan ku bertambah yaitu belajar untuk ujian yang sebenarnya sudah kucicil dari 1 bulan yan lalu, dan akhirnya ujian pun hari ini selesai. Tidak terasa sudah 2 tahun aku meninggalkan Indonesia untuk mengenyam pendidikan di sini. Rindu sekali rasanya dengan rumah, apalagi masakan mama benar benar gaada yang bisa menggantikan posisinya sebagai chef no 1.
Sambil merebahkan diri di kasur dan masih memakai baju hangat, aku mengecek handphone ku. Kira kira 3 jam aku keluar rumah tadi, aku benar benar tidak mengecek handphone ku ,malas saja kalau sedang menikmati jalan jalan ku tapi sambil cek handphone rasanya seperti dunia mu di handphone saja tidak usah jalan jalan keluar. Aku mulai membalas pesan yang masuk dari bawah, memantau group- group di perkuliahan barangkali ada yang penting dan harus diselesaikan sebelum aku pulang, tetapi Alhamdulillah tidak ada. Lalu aku kemudian tercengang ada pesan masuk di list chat paling atas , hanya 1 pesan masuk tapi sukses membuat ku terdiam

'Halo Dita, apakabar kamu dan Auckland?'

Aku diam, dan langsung bingung apakah harus membalas atau tidak, rasanya sudah lama sekali tidak pernah kontak dengan orang ini, rasanya sudah lama bahkan lama sekali semenjak hari itu..
Aku masih menatap layar handphone ku dengan tidak percaya 'kupikir dia sudah lupa, bahkan tidak peduli dengan ku? atau ini pasti ada maksudnya.. hmm nanti sajalah ku balasnya lebih baik aku packing dulu saja' Akhirnya aku meletakkan handphone ku di kasur dan aku mulai packing untuk besok kembali ke Indonesia, rasanya aku tidak sabar hari esok, aku melihat kalender 'lucu juga ya kepulanganku baru besok, tapi tanggal di kalender sudah dari bulan Mei ku coret untuk menghitung tinggal berapa hari lagi kepulanganku ke Indonesia'. Kepulangan ku kali ini dalam rangka liburan saja walaupun tidak lama, dan Alhamdulillah ada rezeki cukup untuk membeli tiket pulang pergi ke Indonesia. Aku melihat kalender di handphone ku, hari hari ku di Indo nanti sepertinya cukup padat, janjian di sana sini sama si ini itu, jalan jalan, trip sama keluarga, alhamdulillah waktu ku di Indo nanti sepertinya akan ada kesibukan lain selain kesibukan ku di Auckland ini.

Aku mengeluarkan koper yang ada di bawah kasur ku, lalu tiba tiba aku melihat kotak, kotak yang memang sengaja aku tidak pernah buka isinya sejak hari itu, tiba tiba dada ku sesak lagi mengingat semua hari itu. aku mencoba membuka kotaknya, semua masih tersimpan rapih dengan surat yang sudah kutulis juga, kotak yang sudah berdebu itu tidak secantik dulu ketika pertama kali aku melihatnya di gerai toko, namun tetap dengan makna yang sama, kotak itu pun sukses membuat ku mengingat sempurna tentang hari itu.. kotak ini tentang sesuatu yang harus diberikan tapi tidak tersampaikan, tentang sesuatu yang kamu tunggu tapi tidak datang

'Ah sudahlah, mungkin pesan yang tadi itu juga hanya dibajak atau hanya iseng saja, aku juga tidak peduli toh pasti dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang'. Aku menutup kotak ku dan ternyata tanpa sengaja kotaknya kumasukkan juga ke dalam koper ku.

Jakarta, 3 Juli 

'Huh pagi pagi gini enaknya ngapaiin ya ?' baru saja aku membatin seperti itu tiba tiba Ibu sudah mengetok kamar, lalu aku membuka pintu kamarnya
"Mas, anak laki laki itu juga gaboleh malas, jadi hari ini tolong bantu ibu ya, tolong rapihkan kamarmu yang sudah berantakan itu, sejak kamu pulang dari Jogja, rupa kamarmu makin tidak karuan saja, tidak enak dipandang mata Mas" kata ibu dengan lembut. " Oh iya baik bu akan aku rapihkan, tapi nanti siang aku ada janji dengan Dono bu, boleh ya aku keluar?" "Oh ya silahkan, asal pekerjaan mu dibereskan dulu ya" "Siap bu bos". Lalu aku segera saja merapihkan kamar ku, yang isinya memang ternyata tidak karuan. Aku mulai dari merapihkan tempat tidur, merapihkan lemari baju dan mengeluarkan beberapa baju yang tidak terpakai dan terakhir merapikan meja belajar, juga menata gitar yang ada di kamar.
Ah ya gitar itu, gitar yang pernah menemani perjalanan SMP-SMA ku, semenjak kuliah aku jarang sekali main gitar, ya paling ketika suntuk mengerjakan laporan saja ,tidak seperti di SMA, di Jogja kali ini tidak ada yang membuatku semangat untuk gitaran .
Ketika aku menengok ke meja belajar, aku melihat kotak makan kecil yang sudah kujadikan tempat flashdisk sekarang, kotak yang sudah lama tidak ku sentuh belakangan ini berdebu pula. Aku terbawa ke dalam ingatan di mana seorang gadis memberiku sushi buatannya dan dimasukkan kedalam kotak makan kecil itu untuk pertama kali,
"eh coba deh enak ga hehe? maaf ya kecil soalnya norinya juga kecil" aku ingat saat itu aku menjawab "yang buat kan juga kecil jadi wajarlah kalau sushinya juga kecil hahaha" ku ingat betul raut mukanya langsung memerah, tapi saat itu aku tetap suka dan memakan sushinya
"enak" kataku, dan aku liat dia sangat senang lalu kembali ke kelasnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya, senyum yang tidak aku pernah lupa sampai sekarang, dan mungkin aku belum menemukannya..

lalu aku membereskan rak buku lagi dan menemukan buku catatan kecil yang sudah berdebu, aku ingat saat gadis itu memberikan ku catatan kecil itu sebelum aku merantau ke Jogja,
"Aku gamau kamu suka kelupaan sama barang barang mu, ataupun janji janji dengan temanmu, apalagi tugas kuliahmu nanti, kamu bisa catet ya disini hehe, kalau bukunya habis bilang aku aja, nanti aku ganti lagi biar kamu ga kelupaan terus"
"Ga kelupaan sama kamu apa sama isi bukunya?"
"Sama dua duanya lah hehe" jawabnya sambil tersipu malu yang membuatku gemas ingin mencubit pipinya.
Buku catatan kecilnya memang sengaja tidak kubawa, takut hilang kalau di Jogja, cukup di rumah saja dia terpajang dan duduk dengan rapih di barisan buku buku lainnya di rak meja belajarku di Jakarta.
Ah ya gadis itu, membuat ku teringat serunya masa SMA ku, dan juga teringat tentang hari itu.. aku masih merasa bersalah karenanya..
Aku mengambil handphone ku lalu melihat isi Instagram nya, 'sepertinya dia sangat senang bisa kuliah di sana, mewujudkan salah satu mimpinya. rasanya sudah lama sekali tidak menghubungi dia, apakabar ya?' kesibukan ku di Jogja sepertinya bisa mengalahkan peralihan ingatan ku ke dia, tetapi di Jakarta semua bisa tertata kembali seperti semula dengan sempurna.
lalu aku melihat display picture nya, dengan senyum merekah terkena sinar matahari dan menggunakan sweater yang longgar, dia sepertinya tetap sama, tetap dengan kepribadian yang sama..
lalu aku mulai berpikir panjang untuk menghubunginya atau tidak? aku diam melirik buku catatan kecil itu dan lalu aku memutuskan untuk mengetik
'Halo dita, masih inget aku ga?' eh tapi kok aneh ya bahasanya, bagaimana kalau begini saja
'Halo dita, kapan pulang ke Indo' eh lah masa udah nanya aja
Lalu aku keluar kamar dan menuju dapur dan melihat ibu sedang memasak
"Bu, kalau orang udah lama ga ngobrol terus tiba tiba mau kontakan lagi biasanya ngomong apa ya bu?" "Nanya kabar nak, ya masa kamu langsung nyerocos nanya yang lain, pastikan dulu kabarnya bagaimana"
Oh iya ibu benar
Lalu sambil menggenggam buku catatan darinya, akhirnya aku mencoba memulai percakapan lagi
'Halo dita, apakabar kamu dan Auckland?' tangan ku sempat gemetar, sent tidak sent tidak? akhirnya kuputuskan untuk mengirim. dan berharap cemas supaya cepat dibalas.

Tetapi sampai senja berganti, dan akhirnya bulan menampakkan dirinya, pesan itu tetap tidak kunjung dibalas.

to be continued..

No comments:

Post a Comment

Instagram