Jakarta, 05 Juli
Akhirnya setelah waktu penerbangan yang cukup panjang ini, aku sampai di Jakarta, hmm rasanya udara Jakarta semakin hari semakin panas, atau Auckland saja yang dingin jadi aku merasa panas di sini? Sambil menunggu koper ku dari bagasi aku langsung mengaktifkan handphone ku dan segera mengaktifkan dan mengaktifkan layanan wi-fi gratis di bandara ini. Seteguk kopi ku minum, lalu aku teringat pesan yang 2 hari lalu mengganggu pikiran ku
aku bingung jawab? tidak? jawab? tidak? , lagipula kalau dijawab mau apa dia ? sepertinya toh tanpa aku pun dia akan bahagia bahagia saja.
aku bingung jawab? tidak? jawab? tidak? , lagipula kalau dijawab mau apa dia ? sepertinya toh tanpa aku pun dia akan bahagia bahagia saja.
Setelah duduk sebentar, akhirnya aku memesan taksi dan meluncur ke rumah ku. Silau sinar matahari Jakarta memang tidak bisa dikalahkan, dengan kemacetan yang sampai sekarang sepertinya belum terurai, tapi kulihat pembangunan di mana mana sepertinya Jakarta memang sedang membenahi diri supaya menjadi lebih baik. Tapi Senang ku akan Jakarta tetap sama, tetap senang memandangi gedung gedung tinggi dengan kesibukan kesibukan masing masing orangnya. Ah gedung tinggi, teringat sesuatu akan gedung tinggi. Kota ini memang banyak berubah, tapi perasaan akan kota ini dengan segala kenangan yang pernah terpupuk di sini tidak akan berubah, tidak akan pernah.
"Assaamualaikum" ku ketuk pintu rumahku
"Waalaikumsalam, waah anak mama sudah sampai Alhamdulillah. Anak mama makin dewasa yaaa," mama langsung memeluk dan menciumku dengan tatapan penuh perhatian. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pelukan mama, pelukan yang selalu membawa ku kembali ke rumah sebenarnya, membawa ku ke dalam ikatan cinta nan tulus dan murni antara ibu dan anak.
"Sini masuk dita, mama lagi masak kesukaan mu loh, sayur sop dan rendang. Tapi kayaknya kamu istirahat dulu deh nanti kita cerita cerita sekalian makan yaaa"
"Waaah enaknya mah, yang lain ke mana?"
"Waalaikumsalam, waah anak mama sudah sampai Alhamdulillah. Anak mama makin dewasa yaaa," mama langsung memeluk dan menciumku dengan tatapan penuh perhatian. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pelukan mama, pelukan yang selalu membawa ku kembali ke rumah sebenarnya, membawa ku ke dalam ikatan cinta nan tulus dan murni antara ibu dan anak.
"Sini masuk dita, mama lagi masak kesukaan mu loh, sayur sop dan rendang. Tapi kayaknya kamu istirahat dulu deh nanti kita cerita cerita sekalian makan yaaa"
"Waaah enaknya mah, yang lain ke mana?"
"Masih sekolah nak, nanti sore pulang"
Akhirnya aku masuk ke kamar dan merebahkan diri, hingga tidak sadar kalau ternyata sudah terjatuh dalam lamunan mimpi yang indah.
"Dita, bangun, sudah waktunya solat Ashar. Langsung solat ya Dit" mama membangunkan ku dari mimpi mimpi ku. Ah tadi aku mimpi ketemu siapa ya, ah sudahlah sudah lupa. Lalu aku langsung solat dan makan dna mengobrol dengan mama. Lalu aku mengecek HP dan ada satu pesan lagi yang masuk dan buat aku semakin bingung
"Dita, sedang di Jakarta?"
sangat singkat, tapi malah membuatku bingung "darimana dia tau kalau aku di Jakarta" kayaknya aku ga update apa apa di instagram ataupun medsos lainnya.
Jakarta, 05 Juli
"Dim lo udah tau belum kalau Dita mau ke Jakarta?"
"Ah ngaco lo, orang dia udah betah kali di Auckland"
"Loh gue serius, besok dia dateng kok ke farewell party nya Bayu"
"Bayu yang temen SMP kita itu? emang dia mau ke mana?"
"Haduh Dim lo kok kudet banget sih, dia tuh mau lanjut ke Amerika, dia ambil double degree gitulah"
"Oh gitu, ya mana gue tau, Dita aja udah gaada kabar, gue coba Line sampe sekarang ga dijawab. masa iya sih orang ga megang HP 2 hari"
"cie cie masih nanya kabar aja Dim, datengin aja sekarang rumahnya, palingan Dita udah sampe"
"Berisik amat sih. Udah ya gue pulang dulu" Akhirnya aku meninggalkan Reno sendirian dan segera menuju lobby utama mall ini. Tiba tiba aku melihat sepasang kekasih sedang kasmaran, sepertinya si cowok baru saja membelikan boneka panda untuknya. Ah boneka panda, Dita kan suka panda, tapi ya aku sampai sekarang gapernah kasih boneka itu ke dita, boneka itu masih rapih di dalam bungkusnya, tersimpan di dalam lemari bajuku yang susah dijangkau oleh orang orang yang memang tidak tahu.
Ah sepertinya tidak ada salahnya coba chat Dita lagi, semoga saja kali ini dibalas
'Dita, sedang di Jakarta?'
hmm kirim gak ya? kirim gak ya? yaudahlah kirim aja.. semoga dibalas, tatapku penuh harap.
Pandangan ku kosong, memandangi gedung tinggi memang menyenangkan ternyata, selalu ada hal yang menarik dari gedung tinggi yan kulihat. Sesekali kulihat layar Handphone ku, Dita tetap tidak membalas. Mungkin dia sedang istirahat, hmm yasudahlah. Tidak terasa senja akan segera pergi, macet Jakarta benar benar membuat ku bosan, aku teringat masa SMA dulu, macet tidak akan pernah terasa selama ini, ketika seorang gadis yang benar benar bisa membuat ku terkesan dengan pertanyaan pertanyaan konyol nya, aku ingat betul hari itu sedang panas panasnya, tiba-tiba dia bertanya
"Dim, kenapa kalau bulan itu tidak selalu datang di malam hari, tapi kalau bintang tetap setia menemani?"
"Kenapa siang siang malah nanya bulan dan bintang?"
"Ya aku pengen tau aja"
"Ya karena bintang tau, sejauh apapun dia, seperti apapun rupanya, dia harus selalu bersinar untuk menerangi langit malam yang kelam, sedangkan bulan? bulan sebenarnya tidak jahat karena tidak selalu menemani bintang, tapi bulan punya kerjaan lain di sana"
"Apa pekerjaan bulan? bulan bersembunyi tapi sebenernya tetap disana, bulan diam dalam kagumnya kepada bintang"
Ya begitulah percakapan random ku dengan Dita, kadang gajarang juga dia nanya "Dim, kenapa sih trotoar di Jakarta tuh ga rata sama jalan, jadi kan kalau oran jalan di situ kecapean soalnya harus naik turun" dan hal hal random lainnya.
Rasanya aku sangat rindu masa masa itu, oh aku ada ide
'Bagaimana jika aku besok aku datang juga ke farewell party nya Bayu. hmm, tapi kan aku tidak diundangan ya tetap tidak enak lah ya. Ah , pura pura saja aku ada perlu dengan Reno dan aku menjemputnya di farewell party nya bayu. Pasti bisa bertemu Dita
Bayangan akan bertemu Dita sudah terlukis dengan jelas dalam pemikiran Dimas, ya semoga saja benar benar trjadi

No comments:
Post a Comment