Jadi gini, sekarang tuh tahun 2016, tahun dimana angkatan saya masuk ke universitas/ politeknik/sekolak kedinasan/dll atau langsung kerja. Nah, salah seorang teman kecil saya ini memang paling bisa deh membuat orangtuanya sabar banget.
Singkatnya, Snmptn dia galolos, sbmptn taupun SIMAK UI juga galolos. Orangtuanya nyuruh dia ambil teknik aja di daerah Jawa, tapi dia gamau. Sampai akhirnya entah apa yang membuat dia memutarbalik keinginannya, akhirnya dia mencoba SELMA UB jurusan teknik sipil. Namun sangat disayangkan jurusan yang ia pilih pun ternyata belum rezeki buat dia.
Dia bingung, orangtuanya pun bingung. Saya sebagai temen kecilnya pun bingung karena mamanya nyuruh saya untuk bujuk dia ikut tes politeknik atau univ swasta lainnya. Dia memilih untuk diam, dan akan mencoba ulang tahun depan untuk cita-citanya itu, padahal sudah ditawarkan beberapa pilihan ke orangtuanya. Yang saya salut adalah ambisi nya untuk mimpi-mimpinya yang begitu kuat hingga dia berpikir dan ingin lebih baik megulang saja tahun depan. Salah satu teman saya menyarankan agar datang ke rumah dia untuk membujuknya agar mengikuti keinginan orang tuanya. Saya bingung kalau harus tiba-tiba datang dan ceramah panjang lebar layaknya ustadzah. Akhirnya saya memilih untuk diam, tapi mencoba kasih solusi untuk tes ke univ di sekitar sini yang masih menerima pendaftaran. Tentu saya hubungi lewat ibunya saja.
Akhirnya saya cerita ke teman dekat saya dan jawabannya adalah
"Yaudah gapapa kok kalau nyoba tahun depan asal setahun penuh dia belajar"
"Tapi kan tahun depan pun belum tentu lolos?"
"Ya berarti kurang doa dan ridho orang tua"
Dari sini saya merasa kalau keinginan orang tua itu supaya anaknya sukses, supaya anaknya mempunyai masa depan yang baik. Gasalah kalau orangtuanya mau anaknya tahun ini kuliah, tapi bukan salah temen saya juga kalau dia memilih jalan untuk menunda setahun demi cita-citanya. 18 tahun sudah mau beranjak dewasa, saya pikir ya itu sudah jalan hidup dia, terserah jalan hidup apa yang mau dia ambil asal ga menyimpang dari norma-norma yang berlaku it's okay. Tapi sepertinya di sini kurang komunikasi antara temen saya dan keluarganya. Diskusi dengan baik dan tenang antara kemauan orang tua dan dia pasti bisa jadi jalan tengah untuk hal ini, menyamakan presepsi tentang kemauan dan masa depan.
Saya tahu pasti orangtuanya sudah membujuknya dengan susah payah, tapi kalau tidak tertarik dengan jurusannya apa boleh buat? Saya yakin dia bisa saja menjalani, tapi ya hasilnya kurang maksimal, bahkan terkadang terkesan ogah-ogahan. Saya mencoba tidak terlalu peduli untuk hal semacam ini (kecuali mereka benar-benar meminta bantuan) karena ya saya pikir itu sudah jalan hidup dia. Dia yang menjalani, harusnya paham dengan segala risiko yang akan ia terima nantinya. Itu pilihannya, ya kalau kita sudah memilih sejelek apapun pilihannya harus tetap bersyukur kan?
Banyak juga yang bilang "sia-sia dong satu tahun kalau ga kuliah". Ya sia-sia sih 365 hari terbuang gitu aja, tapi menurut saya gaakan terbuang sih kalau dia belajar dan isi dengan kegiatan positif yang membuat diri dia berkembang dan bisa menggapai cita-citanya. Ya banyak orang yang mau sukses di usia muda, punya target sarjana bahkan gajarang yang punya target menikah muda dan segala target dalam hidupnya. Tapi ya kadang ga semudah itu mencapainya, kadang Allah tunda dulu target-targetnya. Dan semua orang kan punya masalah hidup yang berbeda-beda, tekanan hidup yang berbeda pula, jadi ya saya rasa tidak bisa dipaksakan dan disamakan kalau semua orang harus ikut pattern yang berlaku dalam masyarakat. Kalau sudah waktunya ya pasti akan terwujud juga kok impiannya dan segala targetnya, asal kita tetap usaha, berdoa dan positif thinking. Keep spirit! :)

Kasus yang dirasakan berapa ratus orang di nusantara. Semoga semua bisa jadi orang sukses sesuai standar sukses yang diinginkan!
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete